Dalam masyarakat kota masih sering dijumpai permasalahan mengenai inklusi yaitu adanya ketidaksetimbangan baik perlakuan maupun hak terhadap setiap anggota masyarakat yang memiliki latar belakang yang berbeda. Ketimpangan yang mencolok antaranggota masyarakat kerap terjadi pada berbagai aspek baik ekonomi, sosial, budaya, lingkungan alam, psikologis, maupun aksesibilitas. Ketimpangan ini cenderung Tampak pada zona transisi, yang bermakna sebagai zona pertemuan/pergesekan antara dua atau lebih golongan masyarakat dengan latar belakang yang berbeda.

Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan perancangan guna menciptakan inklusi dalam akses pada zona transisi tersebut untuk mengubah ketimpangan menjadi kesetaraan. Dengan demikian, kota inklusif dengan akses yang adil bagi setiap masyarakat dapat terwujud.

“Bagaimana suatu rancangan mampu menghilangkan batas antarmasyarakt pada zona transisi agar hidup berdampingan dan memiliki kesetaraan dalam mengakses aspek kehidupan guna mewujudkan lingkungan yang inklusif?”